Orang tua yang mempunyai anak dalam usia sekolah sering kali kesulitan dalam meningkatkan prestasi belajar anak. Biasanya anak dalam usia sekolah lebih sering menghabiskan waktunya dengan cara bersantai; nonton tivi, main video game, ngobrol rame-rame sama teman, jalan-jalan di pusat keramaian, dan lain sebagainya. Tidak jarang mereka mencoba-coba hal yang dilarang. Dan sering mereka tidak punya tanggungjawab untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Sesungguhnya anak dilahirkan dengan kemampuan dan kecakapan yang standar. Tidak ada anak yang bodoh, kecuali dia mengalami sakit yang mengganggu daya nalar. Berikut adalah tips untuk meningkatkan prestasi belajar anak yang patut diketahui para orang tua.
1. Menuntun anak untuk punya cita-cita.
Orang tua harus menerangkan kepada anak tentang cita-cita. Jangan hanya mengatakan jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Cita-cita dibuat untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Cita-cita jangka pendek umpamanya masuk tiga besar pada kenaikan kelas yang akan datang. Cita-cita jangka menengah; masuk sekolah atau universitas terkenal. Cita-cita jangka panjang; menjadi Mentri Sosial (umpamanya). Cita-cita tersebut harus dijabarkan dengan jelas sehingga jelas pula untuk mencapainya.
2. Fasilitas pembelajaran.
Orang tua harus mengatur jadwal belajar anak, dan menyediakan buku pelajaran dan peralatan belajar lainnya. Buku tersedia tidak mesti dengan selalu membeli, kecuali wajib beli oleh guru. Pada saat jadwal belajar maka anak dapat belajar. Pada saat anak membutuhkan referensi seperti buku dan referensinya ada. Dan orang tua sebaiknya memahami apa yang dipelajari anak untuk memberikan dukungan kepada anak. Orang tua tidak harus memahami pelajaran tersebut seperti guru.
3. Belajar di rumah.
Belajar tidak cukup di sekolah saja. Orang tua harus mengawasi anak fokus belajar di rumah, ada jadwal belajar di rumah. Umpamanya dari jam 19:00 s/d jam 22:00 setiap hari sekolah. Suasana belajar dibuat nyaman dan menyenangkan, seperti adanya cemilan, dan mungkin juga dengan hiburan musik instrumentalia. Tapi jangan biasakan anak belajar sambil nonton tivi karena mengganggu fokus ke pelajaran.
4. Beretika dan berdoa.
Sering kali para guru mengeluh bahwa anak-anak tidak menghormati guru, membantah, dan berdebat dengan guru. Hal ini membuat guru kesal dan berakhir dengan penilaian jelek kepada anak. Oleh sebab itu orang tua harus mengajari anak untuk menghormati guru; berkata sopan, bersikap hormat dan patuh, senang bertegur sapa. Jika ada pendapat atau tindakan guru yang tidak dapat diterima anak maka ajarkan kepada anak cara penyampaian alasan penolakan dengan masuk akal yang dapat juga diterima guru. Dan anak harus dibiasakan untuk berdoa supaya anak mengerti bahwa kita bukan yang paling mampu segala-galanya, masih ada Tuhan yang Maha Kuasa.
5. Mengurangi uang jajan.
Uang jajan yang berlebihan hanya akan menyebabkan anak arogan dan tergantung kepada uang. Sebaiknya orang tua mengurangi uang jajan anak sampai sebatas dibutuhkan. Yang dikurangi adalah uang jajan, bukan uang pendukung kegiatan pembelajaran. Kekurangan uang jajan dapat meningkatkan daya pikir anak untuk mengatasi kesulitan keuangan, diantaranya dengan berhemat.
6. Kerja keras.
Orang tua harus menyadarkan anak akan adanya risiko gagal. Anak harus melakukan kegiatan belajar dengan bersemanagt dan berusaha keras untuk berhasil. Tanpa usaha keras maka anak dapat saja gagal. Kelulusan dengan nilai yang hanya cukup juga akan sulit untuk mendapatkan tawaran pekerjaan.
7. Menerima hasil buruk dengan niat untuk bangkit.
Anak mempunyai sikap yang berbeda terhadap nilai buruk. Orang tua harus dapat mendorong semangat anak untuk bangkit. Katakan bahwa nilai yang menurun adalah peringatan kepada kita untuk memperbaiki segala kekurangan pada masa lalu. Jangan biarkan anak tenggelam dalam kesulitan sendirian. Dampingi anak dan beri dukungan untuk dia dapat segera bangkit.
8. Hubungan baik dengan guru.
Ini cara paling kuno, tapi cukup efektif memperbaiki nilai prestasi anak. Yang menilai berhasil tidaknya anak dalam pelajaran adalah guru. Dorong anak untuk menjalin hubungan baik dan menghormati guru. Kalau guru kesulitan dalam hal keuangan maka orang tua boleh membantu semampunya, tapi ingat : anak tidak boleh tahu. Namun demikian, orang tua jangan bermaksud membeli guru.
Akhirnya, para orang tua harus percaya bahwa anaknya adalah anak yang cerdas luar biasa, namun harus dibina dan dididik dengan cara yang benar. Seperti sebuah pisau yang harus selalu diasah agar tajam dan siap digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar