Cerita : Masa Kecil di Meranti Pandak
Tak tahu persis sejak kapan kami tinggal di Meranti Pandak. Menurut perkiraan saya sejak tahun 1963. Saya masih lupa-lupa ingat tentang perintah matikan lampu setiap malam. Mungkin karena “Ganyang Malaysia”. Waktu itu listrik masih barang langka, dan kami masih pakai lampu petromak yang sudah mewah pada masa itu.
Pada masa itu, jalan yang melintasi Sungai Siak hanyalah Jembatan Ponton. Beberapa rakit tongkang digabungkan hingga menyeberangi sungai. Jembatan akan bergoyang bergelombang pada saat ada kendaraan melintas di atasnya. Malam hari anak-anak suka menikmati goyangan ini walaupun sering dimarahi, dan dikejar-kejar petugas, untuk menghindari kecelakaan tercebur ke sungai.
Yang unik pada jembatan ini adalah bagian tengah jembatan yang dapat diputus. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada kapal dan lalu lintas air untuk melayari sungai dari hulu hingga hilir. Tidak terlalu ramai kapal yang lewat. Yang sering lewat adalah kayu-kayu balak (log) yang dirangkai menjadi rakit dan dihanyutkan di Sungai Siak untuk dijual ke Selatpanjang. Pemutusan jembatan ini dijadwalkan pada pukul 06:00 s/d 06:15 WIB di pagi hari, dan pukul 18:00 s/d 18:15 WIB di sore hari. Rakit kayu balak yang panjang sekali akan memaksa jadwal pemutusan jembatan diperpanjang. Kalau ini terjadi pagi hari, bisa berakibat keterlambatan masuk sekolah. Disini juga ada jasa pengantaran menyeberang menggunakan sampan besar jika jembatan sedang putus.
Awalnya jembatan ini tidak punya pengaturan lalu lintas (traffic light). Pengguna jembatan hanya tinggal melihat ada tidaknya kendaraan yang sedang melintasi jembatan. Mereka harus menunggu sampai semua kendaraan dari arah berlawanan melewati jembatan. Demikian seterusnya. Akhirnya terjadi suatu tragedy berdarah yang merenggut nyawa seorang ibu guru SKKA. Mobilnya yang berada tepat di belakang bus tergencet. Diduga rem bus blong dan tidak mampu melewati tanjakan jembatan. Untuk meningkatkan keselamatan pengguna jembatan, pihak PT. CPI memasang traffic light. Uniknya, sekali lagi, traffic light ini dikendalikan secara manual oleh petugas polisi. Dan ada juga Pak Polisi yang pemarah. Sepeda yang tetap nyelonong masuk jembatan pada saat lampu merah, Pak Polisi akan menahannya, membuka pentil roda sepeda dan tanpa ampun melemparkannya ke Sungai Siak.
Saya menulis ini berdasarkan ingatan masa kecil. Akan sangat berarti jika ada pihak-pihak yang lebih mengetahui, seperti PT. CPI, yang bersedia menampilkan cerita yang lebih dokumentatif, dilengkapi dengan foto, dan bahkan sketsa Jembatan Ponton, sebagai memory hari jadi Kota Pekanbaru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar