Selasa, Juni 09, 2009

Mengelola Keuangan Keluarga

Sabtu 6 Juni 2009 lalu diadakan pelatihan dengan tajuk Bincang Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga. Pelatihan ini kerja sama Rumah Zakat Indonesia dengan Bank Riau Syariah dan didukung oleh Andalas Kertasindo. Dalam pelatihan ini tampil sebagai pembicara Bapak Ahmad Gozali dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan.

Bahwa penghasilan keluarga itu seharusnya adalah penghasilan yang halal. Penghasilan tersebut harus melalui filter yang dapat menolak yang tidak halal. Ini merupakan syarat mutlak untuk memperoleh berkah dan qona’ah dalam menuju keluarga sakinah.

Biasanya penghasilan akan selalu habis, karena sifat dari uang adalah untuk dihabiskan. Kalau penghasilan tidak dikelola dengan benar maka uang tidak pernah bersisa dan kita senantiasa menjadi orang miskin. Ya, benar, kita akan selalu jadi miskin walaupun punya penghasilan besar sekalipun. Pengelolaan keuangan keluarga akan menghindari kita dari kemiskinan.

Keuangan orang miskin dapat ditandai dari pengelolaan yang keliru sebagai berikut :
Penerimaan penghasilan selalu digunakan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kalau masih bersisa baru digunakan untuk Tabungan/Investasi. Terakhir baru untuk bayar zakat. Karena sifat uang adalah untuk dihabiskan, maka penghasilan tersebut telah habis lebih dulu sebelum sempat menabung dan bayar zakat. Yang terjadi kemudian adalah tidak ada tabungan dan tidak pernah membayar zakat.

Keuangan orang miskin tersebut sekarang dikelola dengan cara-cara yang cerdas menjadi keuangan muslim. Penghasilan yang diperoleh terlebih dahulu digunakan untuk bayar zakat, infak, dan sedekah. Jumlahnya sekira 10% dari penghasilan. Kemudian penghasilan tersebut digunakan untuk membayar hutang (kalau ada) sekira 30% dari penghasilan. Oleh sebab itu perencanaan besarnya hutang adalah dengan menghitung besarnya angsuran hutang per bulan sekira 30% dari penghasilan. Kemudian penghasilan tersebut digunakan untuk Tabungan/Investasi antara 30% - 40% dari penghasilan. Sisanya baru digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti inilah cara pengelolaan keuangan muslim.

Kenapa sisa yang kecil yang digunakan untuk kebutuhan hidup? Karena zakat adalah hutang kita yang akan tetap diminta pertanggungjawaban sampai di akhirat kelak. Demikian juga dengan hutang, tidak akan masuk surga seseorang yang tidak membayar hutangnya. Hal tersebut harus menjadi hal penting dalam hidup kita, tidak boleh dilalaikan.

Kemudian menabung. Tabungan adalah jaminan masa depan. Kalau bicara soal menjadi kaya, maka menabung solusinya. Memang benar, uang bukanlah segalanya, tapi harus diingat, kadang kala segalanya dapat diatasi dengan uang. Cara yang paling efektif untuk mengumpulkan uang adalah dengan menabung, kemudian gunakan untuk berinvestasi. Adalah cara yang kurang tepat jika menabung untuk beli harta benda yang bersifat non produktif.

Sisanya tinggal sedikit sekali untuk kebutuhan hidup? Ya, memang demikian. Kebutuhan hidup adalah memenuhi sesuatu yang diperlukan untuk hidup. Yang sering salah dimengerti adalah keinginan-keinginan yang bukan merupakan kebutuhan telah menjadi beban penghasilan sehingga menggerogoti porsi tabungan, pembayaran hutang, dan ZIS. Perlu dicamkan bahwa makin kuat desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup maka makin tumbuh sikap kreatif untuk mengatasinya. Jadi, gunakan lebih baik memperbesar porsi ZIS, pembayar hutang, dan tabungan terhadap porsi kebutuhan hidup. Karena makin sulit tantangan yang Anda hadapi, makin meningkat kreatifitas Anda untuk menyelesaikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar