Ini memang seperti permainan kata-kata, karena sepintas terlihat sama. Kinerja adalah hasil kerja, dimana hasil kerja mengandung proses kerja. Saya mencoba mengutak-atik kata ini untuk mencari kejelasan. Akhirnya saya maknai sendiri apa yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Disini saya berbagi.
Hasil kerja adalah apa yang dapat dilihat dan atau dirasakan dari pelaksanaan kerja tersebut. Dalam hal ini dapat diukur atau dinilai hasilnya : SUKSES atau GAGAL.
Proses kerja adalah suatu aturan atau langkah-langkah yang tetap dan berulang secara konsisten dalam mencapai hasil kerja. Konsistensinya dapat berlaku secara ketat dan ada pula yang lebih longgar. Dalam hal ini ukuran keberhasilan proses kerja adalah dalam mendukung kesuksesan hasil kerja. Kalau lagi beruntung, bisa saja proses kerja yang kurang baik masih memberikan hasil kerja yang relatif baik.
Dalam kinerja terkandung dua nilai besar, yaitu hasil kerja yang baik diperoleh melalui proses kerja yang baik. Hasil kerja yang baik belum memberikan kinerja yang baik apabila proses kerja yang belum membaik. Umumnya proses kerja yang baik akan memberikan hasil kerja yang baik, sehingga kinerja juga membaik.
Pada umumnya kinerja digunakan untuk mengukur prestasi (performance) suatu unit kerja dan atau individu. Sering kali terjadi kesulitan untuk mengukur kinerja karena kesulitan dalam menetapkan apanya yang akan dijadikan acuan pengukuran (kriteria pengukuran). Mari kita jadikan kinerja atau prestasi anak kita dalam pelajaran sekolah.
Kinerja anak kita dalam pelajaran sekolah adalah hasil ujian. Hasilnya ujian tengah semester adalah BAIK, dan pada ujian semester menurun. Apa yang terkandung dalam kinerja adalah proses belajar, dan hasil ujian. Dalam hal ini dapat disimpulkan sementara proses kerja belum bagus karena hasil ujian tidak konsisten. Apabila proses kerja sudah berjalan bagus secara konsisten maka kinerja akan memberikan hasil BAIK secara kontinyu.
Bagaimana bisa hasilnya BAIK sedangkan prosesnya tidak? Hal ini terjadi secara tidak sengaja, seperti dapat bocoran soal, mencontek, memberi hadiah kepada pemeriksa, dan lainnya yang keluar dari konteks proses kerja. Pada saat keberuntungan ini hilang maka hasilnya segera terpengaruh.
Mengukur kinerja fisik lebih mudah dibandingkan kinerja berupa jasa dan pelayanan. Pada jasa dan pelayanan sering kali terdapat kesulitan untuk mengukur hasil kerja. Juga hubungan proses kerja dan hasil kerja yang agak renggang. Tidak jarang ditemui orang yang menggebu-gebu namun hasil kerjanya biasa saja. Hal ini terjadi karena proses kerja yang belum konsisten.
Mengukur kinerja bisa menjadi suatu penilaian yang rumit karena kesulitan melakukan penetapan kriteria. Akibatnya sering terjadi subjektifitas yang menyebabkan ketidakpuasan diantara pihak yang dinilai, seperti penilaian juri terhadap lomba kecantikan. Dalam kehidupan organisasi bisnis hal ini juga dapat terjadi. SDM yang sering mengusulkan ide-ide dianggap punya kinerja bagus, sedangkan yang diam saja dianggap punya kinerja kurang memuaskan. Dapat saja kenyataannya bahwa yang sering melontarkan ide tidak dapat merealisasikannya, sedangkan yang diam saja adalah orang yang sibuk bekerja menghasilkan produk (sehingga tidak sempat bicara?). Siapakah yang paling baik kinerjanya?
Untuk itulah pentingnya ditetapkan suatu kriteria penilaian yang mencakup semua aspek penilaian kinerja, diantaranya dilahirkan penilaian kinerja dengan model Balanced Scorecard. Dengan demikian dapat dilakukan penilaian kinerja seseorang dengan lebih objektif.